Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

KEBENARAN BARU

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A. *)

Baru baru ini, penulis menerima kiraman video yang sedang viral dari seorang teman. Video tersebut tentang pidato  Bapak Dahlan Iskan dalam acara wisuda di salah satu perguruan tinggi di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Inti dari pidato pak Dahlan Iskan adalah membicarakan tentang “Kebenaran Baru”. Setelah mendengar pidato tersebut, Penulis merasa tertarik untuk menjelajah lebih jauh tentang apa itu kebenaran baru itu.

Sejak zaman dahulu kala perdebatan tentang “kebenaran” tidak pernah terhenti. Kebenaran menjadi subyek perdebatan dalam berbagai bidang ilmu.   Kebenaran merupakan konsep yang kompleks dan relatif, yang melibatkan pertanyaan mendasar tentang realitas, persepsi, dan nilai-nilai subjektif.

Jika kita kaji lebih mendalam akan dapat kita temukan sebuah fakta bahwa kebenaran itu ternyata tidak selalu merupakan konsep yang bersifat mutlak dan berlaku umum. Dalam dunia ilmu pengetahuan memang kita mengenal adanya kebenaran obyektif yang didasarkan pada fakta empiris, namun kebenaran seringkali bersifat relatif. Hal ini karena persepsi dan interpretasi manusia dapat bervariasi secara signifikan, tergantung pada latar belakang, keyakinan, dan nilai-nilai individu.

Dalam era modern yang penuh dengan kemajuan teknologi dan informasi yang cepat seperti sekarang ini, masyarakat dunia semakin terhubung dan memiliki akses tak terbatas ke berbagai sumber informasi. Namun, di tengah kemudahan ini, muncul fenomena yang menarik perhatian banyak orang, yaitu "kebenaran baru". Konsep ini mengacu pada gagasan bahwa pada zaman sekarang dimana kebenaran bukan lagi sesuatu yang bersifat absolut, tetapi lebih bersifat relatih karena dipengaruhi oleh interpretasi, persepsi, dan sudut pandang individu.

Kebenaran baru mengacu pada pergeseran paradigma dari masyarakat terhadap kebenaran. Dahulu kebenaran dimaknai sebagai sesuatu yang dianggap mutlak dan berlaku umum. Namun sekarang kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang bersifat relatif dan sangat tergantung pada sudut pandang invidu. Disamping itu kebenaran dipercayai akan terus berkembang dan berubah seiring dengan waktu dan tergantung pada perubahan sosial, budaya dan nilai-nilai dalam masyarakat. Hal lain yang mempengaruhi kebenaran baru adalah faktor psikologis, emosional, dan pengalaman pribadi individuTop of Form.

Pandangan tentang kebenaran juga dapat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Sebagai contoh, apa yang dianggap sebagai kebenaran dalam satu budaya mungkin tidak berlaku di budaya lain. Nilai-nilai moral, norma sosial, dan kepercayaan agama yang berbeda dapat membentuk pandangan yang berbeda tentang apa yang benar dan salah. Selain itu, faktor-faktor seperti politik, ekonomi, dan kekuasaan juga dapat mempengaruhi pemahaman kita tentang kebenaran. Dalam beberapa kasus, kebenaran bahkan dapat menjadi subjek manipulasi atau terdistorsi untuk tujuan politik atau kepentingan pribadi.

Persepsi subjektif juga berperan penting dalam pemahaman kita tentang kebenaran. Setiap individu melihat dunia dengan kacamata pengalaman pribadi, dan ini dapat memengaruhi bagaimana mereka menafsirkan informasi dan mencari kebenaran. Bahkan dalam hal-hal yang tampaknya objektif, seperti warna atau rasa, persepsi individu dapat bervariasi. Contohnya, apa yang dianggap pedas bagi seseorang mungkin dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Contoh lain misalnya terjadi pada orang yang buta warna. Dalam hal ini, kebenaran subjektif menjadi relevan dan penting untuk dipertimbangkan.

Namun, meskipun kebenaran bersifat kompleks dan relatif, itu bukanlah suatu alasan untuk menolak pencarian kebenaran. Pemahaman tentang kebenaran adalah tujuan yang sangat penting dalam pembentukan pengetahuan, etika, dan pemikiran kritis. Dalam ilmu pengetahuan, misalnya, metode ilmiah digunakan untuk mendekati kebenaran objektif melalui observasi, eksperimen, dan pengujian yang sistematis. Dalam konteks moral, pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai etis dapat membantu kita memandu tindakan kita dengan lebih bijaksana dan bertanggung jawab.

Dalam upaya terus mencari kebenaran, penting bagi kita untuk mengembangkan sikap yang terbuka dan kritis terhadap informasi yang kita terima. Kita harus siap untuk mempertanyakan keyakinan dan pandangan kita sendiri, serta bersedia mendengarkan sudut pandang orang lain. Dalam diskusi dan perdebatan, kita dapat menguji gagasan kita dan memperoleh wawasan yang lebih dalam melalui pertukaran ide yang konstruktif.

Selain itu, pemahaman tentang kebenaran juga melibatkan pengakuan akan ketidaksempurnaan manusia dan batasan pengetahuan kita. Kita harus menerima bahwa kita tidak selalu memiliki jawaban yang pasti atau lengkap untuk setiap pertanyaan. Seringkali, kebenaran berada dalam proses yang terus berkembang, di mana kita terus menggali informasi baru, melakukan penelitian, dan menguji teori.

Dalam konteks sosial dan politik, penting bagi kita untuk memahami peran yang dimainkan oleh kebenaran dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadilan. Kebenaran adalah landasan yang diperlukan untuk mempromosikan keadilan, mengungkap penindasan, dan menentang ketidakadilan. Oleh karena itu, kita harus berkomitmen untuk memerangi manipulasi kebenaran, penyebaran informasi palsu, dan ketidaktepatan yang disengaja seperti akhir-akhir ini.

Namun, di tengah kompleksitas dan relatifitas kebenaran, kita juga harus menjaga keseimbangan dengan penerimaan dan penghargaan terhadap beragam pandangan dan perspektif. Sementara kita mungkin memiliki pandangan subjektif tentang kebenaran, penting bagi kita untuk tetap menghormati pandangan orang lain yang mungkin berbeda. Ini tidak berarti kita harus mengabaikan kebenaran objektif, tetapi mengakui bahwa ada ruang bagi keragaman pendapat dan interpretasi dalam masyarakat yang pluralistik.

Dalam dunia yang penuh dengan informasi yang mudah diakses dan tersebar luas, penting bagi kita untuk mengembangkan kemampuan pemikiran kritis dan kecerdasan informasi. Kita harus mampu memfilter informasi yang kita terima, memeriksa keandalannya, dan memahami konteks di baliknya. Ini melibatkan penggunaan sumber-sumber yang terpercaya, pemahaman tentang metode ilmiah, dan pengakuan terhadap bias yang mungkin ada dalam penyajian informasi.

Penting untuk diketahui, bahwa pemahaman kita tentang kebenaran sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, individu, dan budaya. Namun, sangat penting bagi kita untuk terus mencari kebenaran baik dalam ilmu pengetahuan, etika, atau pemikiran kritis, karena pemahaman tentang kebenaran merupakan landasan yang penting untuk perkembangan pengetahuan dan pemahaman kita tentang dunia.

Selain itu  dalam mecari kebenaran kita perlu mengembangkan sikap terbuka dan kritis, dan menjaga keseimbangan antara pengakuan terhadap kebenaran objektif dan penghargaan terhadap keragaman pandangan. Dalam proses ini, kita dapat memperkaya pengetahuan kita, memperdalam pemahaman kita tentang dunia, dan membangun masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan.

*) Kasi Kominfo BPIC

Redaksi